Kekecewaan pemerintah terhadap produsen telepon seluler pintar Black- Berry, Research in Motion (RIM), yang lebih memilih Malaysia sebagai basis produksi ternyata belum pudar.
Pemerintah bahkan mewacanakan untuk menghentikan impor BlackBerry dari negeri jiran itu. Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Bayu Krisnamurthi mengatakan,pemerintah kecewa lantaran RIM lebih memilih Malaysia sebagai lokasi pabrik, padahal Indonesia merupakan pasar terbesar Black- Berry di Asia.“Terus terang kita kecewa dengan RIM.Kita hanya dijadikan pasar,”kata Bayu Krisnamurthi di Jakarta kemarin. RIM lebih memilih Malaysia sebagai basis produksi Black- Berry.
Mereka telah membangun pabrik manufaktur di Penang,Malaysia, sebagai upaya memenuhi produksi Black- Berryuntuk Asia-Pasifik.Pabrik RIM di Penang mulai beroperasi sejak Juli 2011 lalu. Ketika itu, Pemerintah Indonesia mengecam langkah RIM dan mengkaji kemungkinan pemberian disinsentif, berupa pajak tambahan. Pemerintah memperkirakan penjualan BlackBerry di Indonesia tahun ini mencapai 4 juta unit, jauh di atas Malaysia yang tidak lebih dari 400.000 unit.
Bayu Krisnamurthi menuturkan, wacana penghentian impor BlackBerry dari Malaysia akan dibicarakan dengan pihakpihak terkait. “Kalau untuk menghentikan impor Blackberry kita lihat nanti ya, Senin kita bicarakan,”ungkapnya. Deputi Bidang Pengendalian dan Pelaksanaan Penanaman Modal BKPM Azhar Lubis mengatakan, polemik mengenai kemungkinan dihentikannya impor telepon pintar BlackBerry sepenuhnya merupakan kewenangan Kementerian Perdagangan.
Terlepas dari itu, pada dasarnya BKPM terus mengingatkan RIM untuk tidak sekadar memanfaatkan besarnya pasar Indonesia. “Kami selalu dorong agar mereka mau investasi ke sini, bangun pabrik manufaktur di sini, jangan hanya dijadikan basis pasar,”ungkap Lubis. BKPM menyadari pertumbuhan pasar telepon pintar di Indonesia sangat tinggi. Ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar terbesar Black- Berry.“Kita juga ingin bisa jadi basis produksi jadi bisa ekspor ke luar juga,”katanya.
Pengamat ekonomi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Latif Adam, meminta pemerintah jangan terlalu reaktif menanggapi persoalan membanjirnya produk impor telepon seluler di dalam negeri. Menurutnya, hal tersebut harus disikapi dengan hati-hati dan cerdas. Sebab,jika disikapi dengan menghentikan impor produk BlackBerry dari negara lain, hal itu justru berdampak negatif. ”Indonesia bisa kena sanksi,”ungkap Latif kepada SINDO, tadi malam.
Sanksi tersebut berkaitan dengan kerja sama perjanjian perdagangan internasional yang telah disepakati dan ditandatangani oleh pemerintah. Dia menilai kecil kemungkinan pemerintah berani memutuskan menghentikan impor BlackBerry jika memperhitungkan konsekuensi yang harus ditanggung.Penghentian impor produk tertentu yang sudah disepakati bisa melanggar perjanjian perdagangan.
Konsekuensi lainnya, kemungkinan produk Indonesia juga bisa dihentikan masuk ke negara lain. Utamanya negara yang produk dalam negerinya dilarang masuk ke Indonesia. ”Bisa ada perlakuan yang sama atas komoditas ekspor kita,” ujarnya. Dia berpandangan, pemerintah seharusnya belajar dari kasus ini. Indonesia yang dijadikan pasar oleh produk impor merupakan salah satu konsekuensi memiliki pasar yang besar.
Jika produk tertentu hanya memanfaatkan pasar Indonesia, perlu dicari akar persoalannya, yakni berkaitan dengan iklim investasi dalam negeri. Inilah yang menurutnya menjadi tantangan bagi pemerintah.” Kalau pasar kita besar,iklim investasi kondusif, pasti produsen besar mau membangun manufaktur dan menjadikan kita sebagai basis produksi,” ungkapnya. bernadette lilia nova/ wisnoe moerti
Jumat, 09 Desember 2011
Impor BlackBerry Bisa Dihentikan
seputar Indonesia
12.50
Orbit99 News
Posted in: 

0 komentar:
Posting Komentar