
MAKASSAR, FAJAR -- Indikasi mantan Manager PT Merpati Nusantara Air Lines Makassar, Imam Bagus Nugraha, 40 tahun, tewas dibunuh, sangat kuat. Itu dikuatkan atas ditemukannya bercak-bercak darah di dalam kamar dan bekas darah sapuan tangan di dinding luar rumah yang berada di kompleks Town House Sungai Saddang, Kecamatan Rappocini.
Pengamatan FAJAR, sedikitnya empat titik (lokasi, red) bekas darah sapuan tangan di dinding depan rumah model minimalis modern berlantai dua tersebut. Posisi darah berada di samping pintu dan di bawah jendela dan samping jendela.
Kuat dugaan darah sapuan tangan itu, masih baru. Jika demikian, maka kemungkinan pelaku setelah menghabisi korban, sempat membersihkan jari tangan dengan menggosok ke dinding sebelum meninggalkan rumah tersebut.
Dugaan Imam dihabisi, juga diyakini keluarga dari istri almarhum. Saat FAJAR bertandang ke tempat kejadian perkara (TKP) sekaligus rumah duka, Kamis malam lalu, keluarga yakin bahwa Imam Bagus Nugraha yang menikah dengan Andi Indriah Syafitri, 26 tahun, pada Juli 2011, tewas dibunuh. Hanya saja siapa pelaku dan apa motifnya, semuanya masih misteri.
Kecurigaan keluarga didasari atas penjelasan salah satu petugas di RS Bhayangkara Makassar bahwa leher korban patah. Selain itu, darah keluar dari hidung.
Sementara itu, Enal, sekuriti Town House Sungai Saddang yang bertugas saat kejadian (Rabu 30 November, red) kukuh, tak ada orang luar masuk ke perumahan tersebut. “Saya tidak pernah meninggalkan tugas. Selain di pos saya hanya jalan-jalan melihat tukang bekerja di dalam kompleks. Kalau ada orang masuk saya pasti lihat,” katanya.
Menurut Enal, ia hanya melihat Hj Ida Nur (mertua Imam) keluar dibonceng. “Yang membonceng katanya tukang ojek keluarga. Saya kenal karena memang sering datang. Cuma saya tidak tahu namanya,” kata Enal, sambil berusaha mengingat, siapa lagi tamu di kompleks yang hanya belasan rumah itu.
Bagi Enal, suasana kompleks ketika itu, sangat sepi. Maklum hampir semua penghuninya berangkat kerja. Dia juga mengaku tidak tahu kalau ada orang di rumah TKP. “Kalau tidak salah, Hj Ida keluar setelah Lohor. Kira-kira lewat pukul 12.30,” tambahnya.
Selain ojek, ada beberapa pekerja bangunan (tukang batu, red) yang bekerja di dalam kompleks. Lokasi bangunan yang dikerja, tak jauh dari TKP. Jaraknya, hanya diantarai satu rumah saja. “Saya melihat tukang keluar kompleks makan siang. Tak lama kemudian, sekitar pukul 13.00 tukang masuk lagi dan melanjutkan pekerjaan,” ucapnya.
Sekuriti yang baru beberapa bulan bekerja di perumahan tersebut, mengaku, sama sekali tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan sebelum Imam ditemukan tak bernyawa lagi oleh mertuanya di dalam kamar.
Kasat Reserse Kriminal (Reskrim) Polrestabes Makassar, AKBP Himawan Sugeha yang dikonfirmasi kemarin, mangkui banyaknya keanehan dalam kasus ini. Atas dasar itulah sehingga penyidik kembali melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), Jumat, 2 Desember.
Dalam pemeriksaan lapangan kemarin, sambung Himawan Sugena, ada beberapa bukti-bukti baru ditemukan di lokasi. Selain bercak-bercak darah di dalam dan luar rumah, juga ditemukan sidik jari.
“Kita masih melakukan penyelidikan. Kita akan mencocokkan sidik jari yang ditemukan,” katanya.
Tak hanya itu saja, pemeriksaan saksi masih terus dilakukan. Termasuk akan memeriksa ulang beberapa saksi yang kemungkinan bisa memberi petunjuk dalam mengungkap kasus ini.
Bagaimana dengan leher korban yang patah? Kasat mengaku, belum memastikannya. “Kami tetap menunggu hasil otopsi. Kami tidak mau menduga-duga,” katanya, malam tadi.
Terpisah, Kapolsekta Rappocini, Kompol Herman mengatakan, penyidik telah melakukan koordinasi dengan dokter forensik. Hanya saja, sejauh ini hasilnya belum rampung.
Menurutnya, hasil otopsi ini menjadi tolok ukur kepolisian untuk menentukan bagaimana sebenarnya kasus ini. "Saat ini kami masih menunggu hasil otopsi. Setelah hasilnya keluar, kami baru melakukan tindak lanjut,” ujar Herman.
Diberitakan sebelumnya, ada beberapa indikasi korban tewas bukan karena bunuh diri. Yakni, mulai dari model ikatan seutas kain yang melilit di leher korban, posisi korban saat tewas, hingga tanda-tanda korban bunuh diri. Kejanggalan model simpul ikatan kain yang melilit di leher korban merupakan simpul mati. Kebanyakan korban bunuh diri memiliki simpul hidup.
Demikian pula dengan posisi korban saat ditemukan. Tubuh Imam saat pertama kali ditemukan dalam posisi duduk dengan lutut ditekuk dan menempel di lantai. Dengan posisi seperti ini sangat tidak memungkinkan jika korban memang berniat gantung diri. Dari kasus-kasus bunuh diri yang pernah diamati posisi korban selalu dalam keadaan menggantung dan kaki tidak menyentuh tanah ataupun lantai.
Tanda-tanda bunuh diri dengan kondisi lidah menjulur, dan terdapat air seni atau sperma hingga kotoran juga masih menyisakan tanda-tanda misteri yang belum dapat menyimpulkan jika korban bunuh diri. Demikian pula dengan bercak darah yang ditemukan di tempat tidur korban. Bercak darah ini menguatkan indikasi korban tewas di tempat tidur sebelum ditempatkan di dekat jendela seolah-olah korban memang bunuh diri. (ars-yat/sil)
20.09
Orbit99 News
Posted in: 

0 komentar:
Posting Komentar