
SEBUAH cerita cinta yang terjadi di sebuah desa miskin Indonesia pada pertengahan 1960-an. Berawal dari kisah sang ronggeng -dipanggil Jeng Nganten- yang mati gara-gara racun bongkrek, maka Dukuh Paruk pun sepi, seperti kampung mati.
Hingga akhirnya Srintil (Prisia Nasution) tumbuh menjadi gadis. Teman dekat Rasus (Nyoman Oka Antara), itu ingin sekali menjadi ronggeng di dukuhnya.
Rasus sendiri bukannya tak tahu keinginan Srintil. Meski Srintil pandai menari, Rasus tak mau Srintil jadi ronggeng di dukuh Paruk. Menjadi ronggeng berarti harus siap menjadi milik Dukuh Paruk.
Srintil ingin menjadi ronggeng, terlebih karena rasa bersalahnya. Dulu Jeng Nganten dan beberapa warga dukuh Paruk mati gara-gara keracunan bongkrek buatan kedua orangtua Srintil. Karena itulah Srintil ingin membalas budi kepada warga dukuhnya
Kisah asmara Rasus dan Srintil dikemas dalam film Sang Penari . Film ini terinspirasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Butuh waktu lama hingga akhirnya Sang Penari siap untuk dirilis ke layar lebar.
Jelas tak mudah menuangkan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk ke dalam sebuah film berdurasi 111 menit itu. Naskah film ini dikerjakan oleh Salman Aristo, Shanty Harmayn dan Ifa Isfansyah. Selain menulis naskah, Ifa juga menjadi sutradara. Sementara sinematografi dikerjakan oleh Yadi Sugandi.
Rasus diperankan oleh Oka Antara, sementara Srintil diperankan oleh Prisia Nasution. Chemistry antara keduanya terlihat apik sejak awal mula film ini. Meskipun kisah mereka berdua menjadi unsur utama film, namun Sang Penari juga memotret kejadian kelam di saat masyarakat Dukuh Paruk ikut terseret peristiwa G30S PKI.
Sinematografi, properti, naskah dan chemistry antar pemain membuat film ini layak untuk diapresiasi. Secara keseluruhan, film produksi Salto Film Company ini mampu memberikan suguhan yang berbeda di perfilman Indonesia.
Penasaran? Kisah cinta yang indah dan menyayat hati ini bisa Anda saksikan di bioskop kesayangan Anda. (21-vvc)
01.21
Orbit99 News
Posted in: 

0 komentar:
Posting Komentar