Jumat, 09 Desember 2011

Ide Keluar Koalisi Cengeng, PKS Tetap di Setgab

 Wacana Partai Keadilan Sejahtera (PKS) keluar dari Sekretariat Gabungan (Setgab) Koalisi yang sempat mengemuka pasca reshuffle kabinet dipastikan tak akan menjadi keputusan Majelis Syura PKS.

Anggota Majelis Syura PKS Surahman Hidayat menegaskan ide PKS keluar dari Setgab hanya karena satu pos menteri dicopot merupakan bentuk kecengengan politik. "Ide keluar dari Setgab adalah cengeng," ujar Surahman kepada wartawan di Jakarta, Jumat (9/12/2011).

Doktor lulusan Universitas al-Azhar Kairo Mesir ini menyebutkan Majelis Syura direncanakan menggelar rapat awal 2012 mendatang. "Tapi bukan membahas sikap PKS di koalisi. Itu tidak strategis," tambahnya seraya menyebutkan rapat Majelis Syura PKS hanya rapat rutin enam bulanan.

Sikap PKS, menurut Wakil Ketua Komisi Agama dan Sosial DPR RI ini, akan tetap mendukung pemerintahan SBY-Boediono hingga 2014 mendatang. "Tapi PKS koalisi kritis, tidak mengamini saja. Ibarat salat, kalau imam salah ya kita ingatkan," tambahnya.

Situasi ini jelas berbeda dengan kondisi saat pasca-reshuflle kabinet Oktober lalu. Sejumlah elit PKS seperti Sekjen PKS Anis Matta menegaskan pihaknya akan mengevaluasi koalisi jika salah satu menterinya ditarik oleh Presiden.

Seperti diketahui, dalam reshuffle kabinet beberapa waktu lalu, satu pos menteri PKS yakni Menteri Riset dan Tekhnologi yang diisi kadernya, Suharna dicopot. Akibatnya, PKS hanya memiliki tiga pos menteri yakni Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Sosial, dan Kementerian Pertanian.

Peneiliti utama Lembaga Survei Indonesia (LSI) Saiful Mujani secara terpisah mengatakan, agar pemerintahan SBY-Boediono bekerja efektif harus melakukan pengencangan koalisi. Menurut dia, sumber masalah di koalisi harus dikeluarkan. "Partai Golkar merupakan sumber masalah di koalisi," katanya dalam diskusi 'Peta Politik dan Hukum Tahun 2012' di gedung DPD RI, Jakarta, Jumat (9/12/2011).

Dia menambahkan, pengencangan koalisi ini konsekwensinya pemerintah harus merangkul partai kecil menengah dalam koalisi. Dia berkeyakinan, dengan format demikian akan menciptakan pemerintahan yang solid dan oposisi yang kuat.

Namun peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Syamsuddin Haris meyakini Presiden SBY tidak akan berani melakukan perampingan koalisi. Karena dalam penilaian Syamsuddin, Partai Golkar meski dianggap kerikil dalam sepatu, dalam kenyataannya ideologi Partai Demokrat dan Partai Golkar memiliki kesamaan. "Ditambah SBY tidak punya nyali mendepak Golkar, serta seluruh peserta koalisi berlatar belakang partai hijau (Islam)," demikian Syamsuddin. [mdr]
inilah.com

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons